[img src="https://1.bp.blogspot.com/-y5vc1w5WmmI/Wvu0-zyCxSI/AAAAAAAAE1k/6-N0xM6XlYERbg8k5nHriuOLiwFrZiWpACLcBGAs/s1600/150%2Bx%2B450%2Bbanner.png"/]

Lestarikan Budaya Leluhur Majapahit, Wali Kota Terima Gelar Kebangsawanan Keraton Solo

(Kiri) Ning ita, (tengah) Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakoe Boewono, (kanan) SISKS  Pakoe Boewono XIII
Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasati mendapat gelar kebangsawanan dari Keraton Solo. Gelar yang diterima Ning Ita yakni Kanjeng Mas Ayu Tumenggung.
   Gelar tersebut diserahkan langsung oleh SISKS Pakoe Boewono XIII saat rangkaian kegiatan Hajad Dalem Garebeg Mulud Alip 1955/2021 Masehi, Sabtu (2/10).
   Ning Ita tak menyangka menerima gelar kehormatan tersebut. Pasalnya, Ia tercatat sebagai satu-satunya Wali Kota Mojokerto yang disahkan menjadi kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dan kini namanya menjadi Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Hj. ika Puspitasari Arimingtyas SE.
   Usai penobatan, Ning Ita mengaku kaget dan tidak menyangka akan mendapat gelar tersebut. Sebab, ia merasa masih memiliki banyak kekurangan dalam mengemban tugas sebagai Kepala Daerah.
   “Terima kasih banyak. Matur nuwun sanget saya diberikan gelar dari Keraton Surakarta, meskipun itu tidak pernah ada dalam bayangan saya,” katanya.
   Kendati demikian, Wali Kota perempuan pertama di Kota Mojokerto ini menyampaikan rasa terima kasih karena sudah dipercaya mengemban amanah dari Keraton Surakarta.
   “Matur nuwun (terima kasih) diberikan kepercayaan ini, mudah-mudahan ini bisa membuat saya selalu menyampaikan apa yang saya lakukan ini memberikan kebanggan untuk warga kota saya,” tuturnya.
   Menurutnya, penganugerahan gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung dari Keraton Surakarta ini pastinya bukan tanpa alasan. Karena itu, ia pun mengaku takjub dan merasa bangga mendapat kehormatan tersebut. “Pasti bukan tanpa alasan saya dipercaya untuk mendapatkan ini tapi saya sungguh sangat kaget dan saya sangat takjub luar biasa,” ungkapnya.
   Gelar ini diberikan oleh Keraton Kasunanan Surakarta atas keberhasilan Ning Ita sebagai Wali kota yang berhasil membangun Kota Mojokerto lebih maju, dengan tetap melestarikan budaya leluhur Majapahit, serta segudang prestasi lainya.
   Lebih lanjut, ia juga berharap bahwa gelar yang diterimanya bisa memberikan kebanggan untuk warga Kota Mojokerto.
   "Semoga dengan gelar ini, bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi Warga Kota Mojokerto, dan akan menggali terus potensi-potensi budaya dan sejarah yang ditinggalkan leluhur kita, yakni Kerajaan Majapahit" tandasnya.
   Perlu diketahui, dalam setiap rangkaian kegiatan Hajad Dalem Garebeg Mulud Alip, baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan upacara, Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat selalu memberikan "Gelar Kehormatan" kepada berbagai pihak yang dianggap pantas untuk menerimanya.
   Selain itu, bertepatan dengan Hari Batik Nasional tanggal 2 Oktober, Keraton Solo juga mengadakan pameran batik hasil karya dari Gusti Kanjeng Ratu Paku Buwono XIII. Pameran ini mengusung tema "Batik Karya Adiluhung". Diantaranya, Batik Parang Noto Bhirowo, Parang Loro Ati, Parang Gunung Sari, Parang Puspito Rinonce serta Batik Sekar Jagat.
   Dikesempatan berbeda Kanjeng Pangeran Aryo Eko Yudi Prastowo Adi Nagoro selaku Pangeran Sentono dan Pangarso Wilayah Jawa Timur,, dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengatakan, bahwasanya Ning Ita tersambung nasab darah keatas dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan yang kedua berdasarkan prestasi kinerja, Ning Ita memiliki segudang prestasi. Sehingga Sinuwun dalam pemberian gelar mengambil keputusannya dari berbagai aspek.
   Kalau dalam bahasa jawa masih trah kusuma rembesing madu maka (keturunan orang-orang terpilih) akan kembali keasalnya yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat. “Jadi Ning Ita adalah Sentono Dalem yaitu keluarga Raja. Berbeda dengan abdi dalem yaitu pegawai kerajaan,” jelasnya.
   Dengan demikian maksud dan tujuan Sinuwun Pakoe Boewono XIII menganugerahkan gelar ini adalah kalau sudah trah kusumo rembesing madu maka masih tetap mengemban amanah dengan menguri2 budaya luhur dengan tidak meninggalkan adat istiadat sebagai orang jawa apalagi kita adalah kerabat keraton kasunanan Hadiningrat. Yang kedua dalam mengemban amanah sebagai pemimpin harus memegang teguh filsafat dan falsafah budaya jawa yg luhur.
   “Contoh dengan menerapkan Hasta brata sehingga berimplikasi kepada kemakmuran daerah yg dipimpinnya,” cetusnya.
   Harapan saya selaku Pangeran Sentono Keraton Kaunanan Surakarta Hadiningrat semoga ini menjadi suri tauladan dan penyemangat bagi Ning Ita Kanjeng Mas Ayu Tumenggung agar berkiprah lebih baik dan hebat lagi dalam mengemban amanah pemerintaham dan dari Sinuwun Pakoe Boewono XIII sebagai Sentono Dalem. *adv/ds

Posting Komentar

[facebook]

XxX

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget