Jombang – suaraharianpagi.com
Dugaan Proyek di lingkungan Kabupaten
Jombang yang dibiayai dari Dana Desa (DD) banyak bermasalah. Salah satunya
proyek pembangunan aspal lapen di Dusun Sambirejo, RT 05/RW 01 Desa Sambirejo,
Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pasalnya pekerjaan jalan
aspal lapen tersebut ada dugaan menyalahi ketentuan dan ada indikasi suap.
Proyek jalan aspal lapen di Desa Sambirejo
tersebut dibiayai dari DD (Dana Desa) tahun anggaran 2021, diborongkan oleh
pihak ketiga atau Pemborong, padahal menurut ketentuan proyek Dana Desa
seharusnya dikerjakan secara swakelola dan 30% Dana Desa harus dipakai untuk
upah pekerja warga setempat, dengan tujuan agar perekonomian masyarakat
bergerak, lebih-lebih masa pandemi covid-19. Yang lebih parah lagi beredar
kabar, bahwa Kades Sambirejo, Zainal Arifin diduga menerima uang fee dari pihak
ketiga (pemborong) yang besarnya mencapai kisaran 15% - 20% dari nilai proyek.
Menurut salah satu warga setempat yang tidak
mau disebut namanya, mengatakan bahwa Kepala Desa Sambirejo, diduga menerima
uang fee dari pemborong sebesar 15% - 20% dari total nilai proyek. “Saya dengar
dari salah satu tokoh masyarakat Desa Sambirejo, bahwa pemborong jalan aspal
lapen di Desa Sambirejo diduga telah memberikan uang fee kepada Kades sebesar
15% - 20% dari total nilai proyek” ujarnya.
Jalan di Desa Sambirejo yang dibangun aspal
lapen tersebut adalah jalan aspal yang kondisinya masih relatif bagus,
selanjutnya tahun 2021 ini oleh pemerintah desa Sambirejo diatasnya dibangun
jalan aspal lapen, jadi pekerjaan B-nolnya adalah jalan aspal yang sebagian
besar relatif masih bagus.
Proyek jalan aspal lapen ini rawan sekali
dipermainkan oleh pemborong, karena sebelumnya sudah ada jalan aspal, pemborong
tinggal memoles sedikit aspal lapen, dan tidak semua item batu yang seharusnya
digelar dikerjakan. Jadi, diduga pemborong bisa meraup keuntungan yang besar.
Tapi warga yang gigit jari karena hasil pekerjaan tidak sesuai dengan anggaran
yang dikeluarkan.
Informasi yang dihimpun dari warga setempat,
jalan tersebut baru hari Rabu tanggal 14/7 dikerjakan, tenaga kerjanya dari
luar warga desa Sambirejo, dari 7 pekerja semuanya orang dari Kecamatan Ngoro.
Tidak ada satupun warga Desa Sambirejo yang dipekerjakan di pekerjaan tersebut.
Seperti apa yang dituturkan oleh warga desa
Sambirejo kepada suaraharianpagi.com 14/7, ”yang kerja semuanya dari Ngoro mas,
semuanya ada 7 orang, tidak ada warga Sambirejo yang diajak bekerja, lagi pula
warga sini pekerjaannya buruh tani, bukan buat jalan, hanya kami yang tinggal
dekat jalan yang dibangun diminta oleh perangkat membantu memberi minuman, dan
makanan ringan”, papar warga yang tidak mau disebutkan namanya kepada awak
media.
Jadi pengerjaan jalan lapen tersebut, diduga
tidak mengacu kepada program padat karya tunai (Cash for work), proyek diduga
diborongkan atau dikerjakan oleh kontraktor. Terkait hal tersebut Kepala Desa
Sambirejo Zainal Arifin, saat dikonfirmasi via ponselnya terkait pekerjaan
aspal lapen di Dusun Sambirejo, Desa Sambirejo, Kecamatan Jogoroto, yang tanpa
papan nama proyek atau diduga proyek siluman tidak mau mengangkat.
Menurut Yanto, dari LSM Gadjah Mada yang
berkantor di jalan Gajah Mada Mojokerto, mengatakan “di Kabupaten Jombang
banyak proyek infrastruktur desa yang dibiayai dari Dana Desa yang menyalahi
ketentuan tidak pernah ditindak tegas oleh Aparat Penegak Hukum, ini yang
membuat Kepala Desa semaunya mengerjakan proyek yang dibiayai dari Dana Desa”.
“Kejadian ini yang membuat masyarakat jadi
enggan untuk melaporkan penyimpangan Dana Desa kepada pihak Inspektorat maupun
ke Aparat Penegak Hukum, di Pemkab Jombang. Karena dianggap membuang-buang
waktu dalam menulis laporan. Kami berharap dengan adanya kejadian ini kepala
Inspektorat maupun Aparat Penegak Hukum Pemkab Jombang, bertindak tegas kepada
Kepala Desa yang tidak melaksanakan ketentuan pelaksanaan Dana Desa, terutama
Desa Sambirejo” *ryan
Posting Komentar