[img src="https://1.bp.blogspot.com/-y5vc1w5WmmI/Wvu0-zyCxSI/AAAAAAAAE1k/6-N0xM6XlYERbg8k5nHriuOLiwFrZiWpACLcBGAs/s1600/150%2Bx%2B450%2Bbanner.png"/]

Diduga Kepala Desa Lalai Menjalankan Tugasnya, Warganya Menjadi Korban


Jombang - suaraharianpagi.com
   Kepala Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Suprapto, diduga lalai dan ngawur dalam menjalankan tugasnya. Bukti akibat adanya unsur dugaan kesengajaan dan lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai Kepala Desa, salah satu warga Desa Kepuhkembeng menjadi korban dalam proses persidangan di Pengadilan Agama.
   Awalnya, Eni Sari Wilujeng (41), warga Dusun/Desa Kembeng RT/RW 006/004, Kecamatan Peterongan, sebagai termohon dalam kasus perceraian dengan Sudarmanto sebagai pemohon, melakukan persidangan di Pengadilan Agama Jombang, Senin (4/5). Namun dalam menjalani proses persidangan tersebut, Eni Sari Wilujeng sangat terkejut, karena prosesi persidangan yang berlangsung ini sudah yang ketiga kalinya dengan agenda pengucapan ikrar talak, berdasarkan putusan Pengadilan Agama Jombang, Nomor 684/Pdt.G/2020/PA.Jbg, tanggal 23 Maret 2020.
Ironisnya, pada sidang pertama dan kedua, Eni Sari Wilujeng tidak pernah mendapatkan surat panggilan. "Saya tidak pernah mendapatkan surat panggilan yang pertama dan kedua. Namun ketika saya menerima surat panggilan, dan saya mendatanginya ternyata sudah surat yang ketiga dan pengucapan ikrar talak, "kata Eni Sari Wilujeng, saat dikonfirmasi, Senin (4/5).
   Tak puas dengan hal itu, Eni langsung mengkonfirmasi salah satu pegawai Pengadilan Agama Jombang, menanyakan terkait surat tersebut ,Setelah saya tanyakan, surat itu sudah diberikan ke desa. Dan saya ditunjukkan bahwa surat panggilan kesatu dan kedua diterima oleh Sekretaris Desa. Dan untuk surat yang keiga, ternyata diberikan langsung dan ditanda tangani oleh Kepala Desa, Suprapto. Katanya, lebih jelasnya suruh menghubungi juru sita. Dan saya tak terima, atas keteledoran pemerintah desa, saya seolah-olah menjadi korban karena saya tidak bisa membela diri di depan Hakim pengadilan agama, "tegasnya.
   Sementara itu, saat dikonfirmasi juru sita pengganti pengadilan agama jombang, di Kantor Balai Desa Kepohkembeng (4/5) Nurul Kumtianawati, menjelaskan, bahwa pada saat mengantar surat dirinya tidak bertemu dengan yang bersangkutan (termohon, red), maka surat panggilan itu saya dititipkan di balai desa, dan diterima oleh Sekertaris Desa, berkasnya ada di sana semua (pengadilan agama, red), "jelasnya.
   Terpisah, Suprapto, Kepala Desa Kepuhkembeng, melalui Sekretaris Desa, Anis Prasetyo Ari, mengatakan bahwa setiap dirinya menerima surat panggilan tersebut, langsung diberikan pada kepala Kepala Desa untuk distempel Pak Kades. Sementara surat yang kedua ada dirumah saya, saya lupah untuk memberikan ke Kasun "ungkapnya.
   Sekdes juga menegaskan bahwa selama ini yang menerima dan membawa surat panggilan tersebut adalah dirinya, "Iya saya yang selama ini menerima surat panggilan, nanti saya lihat di rumah. Karena saya yang pegang surat itu, "tegas Sekretaris Desa Anis Prasetio Ari.
   Sementara Eni Sari Wilujeng, tetap akan mencari keadilan, saya akan melaporkan kasus ini ke Polres Jombang dan PK ( Peninjauan Kembali ) biar jelas siapa yang mempermaikan rumahtangga saya, sampai hati, surat panggilan kedinasan dibawah pulang kerumah, sehingga saya tidak bisa mengikuti sidang baik yang pertama dan kedua. Jangan – jangan dugaan, pihak juru sita dari Pengadilan Agama Jombang Nurul Kumtianawati SM.MH dan Sekretaris Desa Anis Prasetio Ari bersekongkol memperlancar proses permohonan cerai suami saya. Bahkan apa yang pernah dikatakan suami saya selama ini benar adanya, dia pernah katakan untuk mengurus permohonan cerai ini habis Rp. 2.000.000;tegas Eni Sari Wilujeng didepan Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Jombang. Drs.H. Chafidz Syaifuddin.SH.MH. *ryan.


Posting Komentar

[facebook]

XxX

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget