Mei 2020


Jombang - suarahariapagi.com
   Pendataan calon penerima bantuan sosial (bansos) warga terdampak Covid-19 di Desa Perak, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, diduga kuat dilakukan secara diam-diam alias tidak transparan.
Hal itu diungkapkan oleh Paijo (bukan nama sebenarnya) salah satu waga Perak yang mengaku menerima informasi dari masyarakat, tentang adanya pendataan secara diam-diam yang dilakukan oleh RT dan perangkat desa.
“Ada laporan terkait pendataan penerima bantuan secara diam-diam. Ini ada bukti. Ada laporan kepada saya. Ada oknum RT dan Perangkat Desa saat membagikan kartu panggilan jam 23.00 malam, berpesan kepada penerima bansos jangan bilang siapa-siapa kalau kamu mendapatkan bantuan. Saya disuruh diam masalah pendataan ini.” Kata Paijo dengan nada berbisi-bisik. Kepada suaraharianpagi.com.21/5/2020.
Melihat fakta ini, tambah Paijo, meminta pemerintah desa Perak, terbuka dalam mendata masyarakat calon penerima bantuan. Baik itu bantuan dari Kementerian Sosial RI atau Kementerian Desa, Transmigrasi dan Pembangunan Daerah Tertinggal maupun dari pemkab sendiri.
   Saya berharap Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tidak salah sasaran. Kalau salah bisa membuat ricuh. Pihak desa harus tepat sasaran jangan ngawur dalam mengelola data, karena di Desa Perak telah terjadi daftar ganda penerima bansos dampak covid 19. Ada sepuluh data penerima BNPT yang menerima dua kali dan data lama ada satu kali penerima BNPT. Jadi ada 11 data ganda penerima bantuan social. Selain itu masih ada nama penerima bantuan dari BPS dua kali atas nama Suyitno warga RT.1/RW 1. Dusun Plumpung, Desa Perak, Yang sebelumnya sudah menerima bantuan dari APBD Kabupaten Jombang Rp 200.000; dan menerima lagi bantuan dari BPS sebesar Rp 600.000; dengan kejadian tersebut kami menduga keras ada persekongkolan antara oknum RT 02 dengan Perangkat Desa.” Tegas Paijo dengan nada berapi-api.
   Masih kata Paijo, meminta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menjadi pemantau dan pengawas setiap kebijakan pemerintah desa. BPD selayaknya menjadi pembela hak rakyat kecil jangan pura – pura tutup mata dan tutup telinga. BPD jangan ikut kata perangkat desa, tapi berdiri pada sisi rakyat,” tegas Paijo.
Paijo yang mempunyai frofesi sebagai wiraswasta ini, meminta masyarakat yang terdampak Covid-19 untuk segera melaporkan ke perangkat desa bila belum terdaftar atau ke BPD setempat.
Selain itu, bila usaha tersebut juga belum ada hasil, warga Perak agar meminta masyarakat melaporkan ke Kabupaten Jombang.
   Terlepas carut-marutnya masalah bantuan sosial dampak Covid-19. Di Desa Perak, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Kepala Desa Perak Ubaidillah Amin, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya mengatakan bahwa penerima ganda tidak hanya tenjadi di desa Perak saja, tapi didesa lainya juga terjadi, ketika ditanya berapa data warga perak yang menerima bantuan dua kali, dengan nada terbata-bata tidak bisa menjawab dan memperlihatkan data kongkritnya, malah telfon Kaur Kesra atau Moden agar diberitau data ganda yang menerima bantuan.
Ketika disinggung penerima ganda baik dari APBD dan BPS, dikatakan yang bisa dikembalikan yang Rp. 200.000; dari APBD, karena sudah di SK kan, sementara yang dari Kementrian tidak bisa dikembalikan, ketika dikejar ada landasan hukumnya Ubadillah tidak bisa menjawab. Jawaban Kepala Desa Perak tersebut justru diamini oleh Sekcam Perak dan petugas dari Dinas Sosial Kabupaten Jombang. Bahkan Sekcam Perak malah balik bertanya kepada wartawan suaraharianpagi.com, kalau menerima dua kali bansos letak kesalahanya dimana, kan gak ada kesalahanya. Artinya bahwa untuk penerima dua kali bansos dibolehkan oleh Sekcam Perak.
   Sementara di dusun Plumpung RT.01, RT.02.RW 01. Desa Perak, Kecamatan Perak. Kabupaten Jombang. Jawa Timur, masih banyak warga yang belum mendapatkan bantuan sama sekali dari program dampak Covid 19. Padahal warga tersebut tidak mempunyai pekerjaan tetap dan tergolong ekonomi lemah. Dengan kondisi seperti ini, Ada dugaan diskriminasi dari Kepala Desa Perak Ubaidillah Amin. *ryan.



 
Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Penyaluran bantuan bagi warga terdampak Covid-19 di wilayah Kota Mojokerto, terus diberikan oleh pemerintah daerah sampai menjelang Idul Fitri. Berbagai jenis bantuan dari pemerintah pusat, provinsi dan daerah terus disalurkan. Dan kali ini, Walikota Mojokerto Ika Puspitasari meninjau secara langsung proses pengemasan sembako bagi warga terdampak di  Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Subdivre II Surabaya Selatan, Senin (18/5).
   Selama ini, Pemerintah Kota Mojokerto tidak hanya menerima bantuan yang bersumber dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi saja. Melainkan, bantuan-bantuan tersebut juga diberikan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Mojokerto, Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), Corporate Social Responsibility (CSR), kelompok masyarakat dan masih banyak lainnya. Yang kemudian, dikoordinir oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melalui Perum Bulog Subdivre II Surabaya Selatan.
   "Ada dua poin penting yang harus diketahui masyarakat terkait bantuan. Poin pertama adalah bantuan yang didapatkan pemerintah daerah selain dari pemerintah pusat dan provinsi, juga bersumber dari instansi lain. Seperti CSR, Baznas, Korpri. Sedangkan poin kedua, terkait operasi pasar. Dimana, operasi pasar ini berbeda dengan jaring pengaman sosial. Operasi pasar merupakan murni tugas Bulog sebagai lembaga pemerintah yang memiliki kuota masing-masing untuk daerah tingkat dua," jelas Ning Ita, sapaan akrab walikota.
   Lebih detail, Ning Ita menjelaskan, pada Jaring Pengaman Sosial (JPS) berupa Paket Sembako dari Pemerintah Kota Mojokerto bersumber dari APBD, CSR, KOPRI dan Baznas yang dalam pendistribusiannya dikerjasamakan kepada Perum Bulog agar jenis dan jumlah komoditas tiap paket sembakonya sama agar tidak terjadi keributan di masyarakat. "Jangan sampai, hanya karena sembakonya tidak ada telur atau gula, warga ribut. Untuk itu, kami ingin semua sembako yang diberikan kepada masyarakat isinya sama, meskipun bantuannya dari berbagai macam sumber," terangnya.
   Untuk sasaran operasi pasar, lanjut Ning Ita, Perum Bulog Subdivre II Surabaya Selatan bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam menentukannya. Dalam operasi pasar murah yang digelar di sejumlah wilayah, merupakan hasil murni komoditi yang dimiliki oleh Perum Bulog, tanpa campur tangan dari Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) maupun bantuan-bantuan dari CSR atau perusahaan lainnya. "Tidak ada namanya, menjual barang-barang hasil bantuan dari CSR atau instansi lainnya, di pasar murah. Semua komoditi murni dari Bulog," tegasnya.
   Lebih lanjut Ning Ita menjelaskan dari kuota penerima bantuan sebanyak 5.500 yang disiapkan pemerintah daerah, baru ada 4.103 warga yang terdata untuk mendapatkan bantuan sembako senilai Rp 300 ribu selama tujuh bulan. Penerima bantuan tersebut, merupkan warga yang telah terverifikasi tidak mendapatkan bantuan jenis apapun, baik bantuan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Namun, dari jumlah 4.103 penerima yang terdata, dimungkinkan angka tersebut terus naik.
   "Jaring pengaman sosial dalam bentuk sembako, kami mengalokasikan sebanyak 5.500 kuota. Tentu dari kuota 5.500 penerima ini, kami memilah masyarakat yang belum mendapatkan jaring pengaman sosial jenis pertama, kedua ataupun ketiga. Sisanya kami sisir untuk mendapatkan bantuan yang keempat ini. Data yang kami himpun, juga berdasarkan aduan masyarakat. Ternyata dari 5.500 kuota baru terpenuhi 4.103 saja. Yang lainnya sudah tercover dari bantuan pertama, kedua dan ketiga. Dan kami meminta kepada semua gugus tugas dan instansi terkait agar penyaluran JPS harus rampung sebelum lebaran," tandasnya. *hms/ds



 Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto, kembali menyalurkan zakat fitrah dan infaq kepada 8.752 orang. Penyerahan zakat fitrah dan infaq tersebut diserahkan secara simbolis oleh Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari kepada mustahik di Rumah Rakyat Hayam Wuruk 50, Magersari, Jumat (15/5).
   Korpri bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Mojokerto mengkoordinir penyaluran zakat dari aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Mojokerto untuk diberikan kepada orang yang berhak. Ada sedikitnya 2.558 anggota KOPRI yang menyalurkan zakat fitrah berupa uang tunai, yang terkumpul sebanyak Rp 89.530.000 Sedangkan uang infaq sebanyak Rp 49.870.000.
   "Total penyaluran zakat dan infaq dari anggota Korpri senilai Rp 139.400.000, tidak semuanya disalurkan melalui BAZ. Melainkan, untuk penyaluran melalui BAZ, zakat berupa uang tunai dari para ASN telah dibelikan beras 2,6 kilogram dengan total nilai Rp 89 juta. Artinya, ada 6,562,4 kilogram beras yang disalurkan melalui BAZ," jelas Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari.
   Sedangkan, lanjut Ning Ita, sapaan akrab wali kota, untuk infaq senilai Rp 49 juta akan diberikan kepada 650 orang berupa bingkisan sembako yang akan dibagikan melalui Kantor Kenterian Agama (Kemenag) Kota Mojokerto. "Untuk infaq, akan kami berikan kepada penjaga kantor, petugas kebersihan, guru mengaji dan masih banyak lainnya," imbuhnya.
   Melalui penyaluran zakat fitrah ini, Ning Ita berharap kepada seluruh anggota Kopri Kota Mojokerto agar terus meningkatkan kinerja. Baik dari segi profesionalisme maupun pelayanan kepada masyarakat. Termasuk tetap meningkatkan iman serta selalu menjaga integritas dalam menjalankan tugas dan fungsinya. *hms/ds


 
Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Bantuan percepatan penangan Covid-19 di wilayah Kota Mojokerto terus dimaksimalkan hingga saat ini. Pemerintah daerah pun, masih terus memverifikasi dan validasi data terkait penerjma bantuan sosial. Untuk itu, Walikota Mojokerto Ika Puspitasari meminta warga untuk bersabar karena penyaluran bantuan sosial masih terus berlangsung. 
   Ditengah kondisi penyaluran bantuan yang masih berlangsung, perwakilan fasilitator wadul ke Ning Ita, terkait situasi di lapangan yang mereka hadapi. Pasalnya, masih banyak dijumpai warga yang menerima bantuan mengajukan protes karena perbedaan bantuan sosial yang didapatkan. "Kami ke sini, ingin meminta arahan terkait kondisi di lapangan kepada ibu walikota," kata salah satu perwakilan fasilitator Triono.
   Bertempat di Rumah Rakyat Hayam Wuruk 50, Magersari, Ning Ita menampung semua aspirasi dari para relawan yang telah berjuang dan bersabar dalam menghadapi warga selama ini. Hal ini tidak lepas dari verifikasi data yang cepat, tepat dan akurat agar semua warga merasakan bantuan sosial yang diberikan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah. 
   "Sebenarnya, jenis bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19 itu banyak. Ada bantuan sembako, ada bantuan uang tunai dan masih banyak lainnya. Namun, ada sebagian warga yang memaksa ingin menerima bantuan uang tunai sebesar Rp 600 ribu. Padahal, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Jadi, kami mohon kepada warga untuk lebih legowo," tegas Ning Ita.
   Ning Ita pun meminta kepada warga agar tidak bertindak diluar kewajaran. Seperti merusak kendaraan dari para relawan atau fasilitator, yang selama ini telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam percepatan penanganan Covid-19 agar warga terdampak segera mendapatkan bantuan sosial. "Kami mohon, agar warga lebih mengerti. Jangan bertindak diluar kewajaran. Para vasilitator ini juga manusia biasa. Dan juga sistem yang ada memiliki kelemahan. Mohon pengertiannya," imbuhnya. 
   Perlu diketahui, Pemerintah Kota Mojokerto telah menyiapkan jaring pengaman sosial bagi warga terdampak Covid-19, yang mulai diberikan sejak 15-30 April. Ada 600 tukang becak, 300 disabilitas, 369 anak yatim non panti, 1.264 lansia kurang mampu dan 6.458 keluarga pra-sejahtera yang mendapatkannya. Anggaran bantuan tersebut, bersumber dari Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBN) serta anggaran dari pemerintah pusat. Dan 5.500 paket sembako bagi warga yang tidak mendapat bantuan ataupun yang baru mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
   Selain itu, ada pula bantuan sosial dari  Kementerian Sosial dan Pemerintah Provinsi yang diberikan dalam bentuk Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) senilai Rp 300 ribu. Dengan rincian, Rp 200 ribu dari Kementerian Sosial, dan Rp 100 dari Pemerintah Provinsi Jatim. Untuk bantuan dari pusat akan diterima oleh masyarakat selama sembilan bulan, sejak bulan ini. Sedangkan dari provinsi, hanya tiga bulan saja. Sehingga, setiap bulannya mereka dapat mencairkan ke e-warong sesuai dengan yang telah ditentukan.
   Selain penerima bantuan program KKS, pemerintah daerah juga menyakurkan bantuan langsung tunai (BLT) di Kantor Pos kepada 11.556 penerima. Bantuan sosial tersebut senilai  Rp 600 ribu akan disalurkan selama tiga bulan terhitung mulai bulan April. Bantuan-bantuan ini, merupakan upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan bagi warga terdampak Covid-19. "Kami ingin semua warga kota yang terdampak, dapat tercover bantuan sosial. Itu itu, mohon disyukuri apapun jenis bantuan yang diterima dari pemerintah," tandasnya. *hms/ds



Jombang - suaraharianpagi.com
  Bertempat di Balai Desa Tugu Sumberejo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Bupati Jombang, Hj. Mundjidah Wahab dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, lewat teleconference memantau langsung jalanya pembagian Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD).13/05.2020.
   Bupati Jombang, Hj. Mundjidah Wahab yang didampingi Wakil Bupati Sumrambah, serta Sekdakab Akh. Jazuli bersama Gubernur Jawa Timur, ingin melihat secara langsung penyaluran BLT DD, di Desa Tugu Sumberejo, Kecamatan Peterongan, dengan harapan bantuan tersebut bisa tersalur tepat sasaran, yakni warga terdampak Covid 19.
“Ibu Khofifah kepingin melihat secara langsung penyaluran BLT-DD di daerah, makanya kita lakukan teleconference saat penyaluran. Ada tiga kabupaten hari ini (yang menyalurkan BLT-DD, red), Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Trenggalek, dan Kapbupaten Jombang. Kebetulan hari ini di Desa Tugu Sumberjo,” terang Munjidah dalam sambutannya.
Masih kata Munjidah, “untuk Kabupaten Jombang, pihaknya sudah melaporkan seluruh perkembangan penyaluran bantuan, baik bantuan dari Kemensos, Dana Desa, dari Provinsi, maupun dari APBD.”
“Tadi saya laporkan untuk Kabupaten Jombang, sudah tersalur semua, dan minggu depan semua sudah tuntas. Sementara yang dari Kemensos ada dua tahap, saat ini masih tahap pertama. Masih ada sisa dari kuota yang 51 ribu itu, tapi sudah kami usulkan,” terang Munjidah kepada sejumlah awak media usai acara.
   "Alhamdulillah ada bocoran dari Ibu Gubernur, kalau Jombang disuruh membuat surat untuk penambahan kuota ke Kemensos. Dan ini merupakan anggaran sisa dari Kabupaten lain yang belum terserap, maka kita akan segera mengusulkan lagi untuk penambahan kuota " tegas Mundjidah. *ryan



 
Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Walikota Mojokerto Ika Puspitasari bergerak cepat dalam menangani rumah runtuh milik warga Lingkungan Balongrawe, Kelurahan Kedundung, yang rusak pada Senin (11/5) lalu. Kendati rumah milik Romla berada di atas lahan orang lain, Pemerintah Kota Mojokerto tetap memberikan bantuan renovasi rumah agar keluarga korban tetap bisa mendapatkan perlindungan.
   Tepat hari Selasa (12/5) Ning Ita, sapaan akrab walikota, ditengah kesibukan yang padat menyempatkan menemui keluarga korban rumah roboh untuk mengecek kondisi keadaannya. Dengan didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Heru Setyadi, Ning Ita memberikan arahan kepada dinas terkait untuk bergerak cepat dalam menangani masalah yang menimpa warga Kota Mojokerto.
   "Karena, rumah beliau berdiri di tanah yang bukan milik pribadi, Bu Romla belum bisa mengikuti program Bedah Rumah dari Pemerintah. Namun, kami melalui Dinas Sosial, BAZNAS, serta gotong royong dengan warga sekitar, tetap berkomitmen untuk membangun kembali rumah Bu Romla. Walaupun jenis bangunannya, non permanen. Bahan bangunan akan disediakan oleh Dinas Sosial, dan pengerjaan pembangunan rumah akan dilakukan secara gotong royong dengan warga sekitar," jelasnya.
   Untuk saat ini, lanjut perempuan pertama walikota Mojokerto ini, keluarga korban rumah runtuh tinggal untuk sementara waktu di Rumah Aman milik Dinas Sosial Kota Mojokerto. "Saya juga mengucapkan terima kasih dan sangat salut kepada warga Kota Mojokerto, yang atas inisiatif pribadi maupun kelompok telah memberikan bantuan kepada Ibu Romla. Semoga semangat gotong royong, kepedulian dan solidaritas ini, dapat terus kita tumbuhkembangkan di tengah pandemi Covid - 19," imbuhnya.
   Seperti yang diketahui sebelumnya, rumah Romlah (52) warga Lingkungan Balongrawe, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto mendadak roboh usai diguyur hujan deras yang berlangsung cukup lama pada Senin (11/5) dini hari. Diduga, rumah semi permanen yang terbuat dari bambu berukuran 4x6 meter persegi tersebut, telah lapuk dimakan usia. Mengetahui hal tersebut, warga kemudian bergotong-royong mengevakuasi pemilik rumah untuk di bawah ke Rumah Aman milik Dinas Sosial. *adv


JOMBANG -Suaraharianpagi.com
   Bertempat di Balai Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang, telah menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) untuk masyarakat terdampak pandemi COVID-19. BLT-DD merupakan Bantuan Sosial dari pemerintah yang bersumber dari anggaran Dana Desa.
   Setiap Kepala Keluarga (KK) penerima bantuan mendapatkan uang tunai sebesar Rp 600.000 tiap bulan selama tiga bulan pada Bansos BLT-DD tersebut. Jumlah total penerima BLT-DD di Kabupaten Jombang yakni sekitar 41.326 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Bupati Jombang Hj. Mundjidah Wahab turut memantau secara langsung penyaluran bansos BLT -DD yang dilaksanakan di Pendopo Kantor Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin siang (11/5/2020).
Menurut Mundjidah, data penerima BLT-DD sudah lengkap, termasuk data penerima Bansos yang bersumber dari BLT-DD, dari BLT Kemensos, dari BPNT, serta dari PKH, Bansos APBD Provinsi Jatim, dan Bansos APBD Jombang.
“Datanya sudah komplit, dan di desa menurut Kepala Desa, tidak ada yang dobel,” ujar Mundjidah Wahab.
Pantauan di lokasi, Bupati Mundjidah Wahab didampingi Camat Mojoagung serta Kepala Desa Gambiran membagikan secara simbolis BLT-DD kepada perwakilan warga penerima bantuan di Kantor Balai Desa Gambiran.
“Bantuan yang diberikan kali ini merupakan bersumber dari Dana Desa, saya harapkan digunakan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan pokok, ditengah pandemi COVID-19, kata Mundjidah dalam sambutannya.
Mundjidah mengungkapkan, di Kabupaten Jombang ada berbagai sumber bantuan yang diberikan kepada warga terdampak COVID-19, di antaranya Bansos yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jombang, APBD Provinsi Jawa timur, serta dari Kementrian Sosial Republik Indonesia.
“Jumlahnya pun bervariasi, tidak sama, serta penerima bantuan juga berbeda sesuai dengan data yang ada, dan yang paling penting adalah harus kita syukuri terkait hal tersebut,” tutur Mundjidah.
Mundjidah menambahkan, saat ini di Kabupaten Jombang, tahapan penyaluran bantuan sudah berproses sejak minggu kemarin, untuk bantuan yang bersumber dari APBD Kabupaten Jombang sudah hampir 100 persen tersalurkan.”
“Hari ini dimulai dari DD yang secara keseluruhan. Besok, menyalurkan yang dari BLT Kemensos yang lewat kantor pos, ada 35 ribu KK, imbuhnya.
Masih Kata bupati Jombang, “ikhtiar seperti ini terus akan diupayakan dalam mengatasi permasalahan ekonomi masyarakat di tengah wabah COVID 19, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Jombang bersama sama berupaya membantu mengatasi permasalah kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui BLT dari Dana Desa (DD).” ujar Mundjidah.
Munjidah juga berpesan kepada penerima bantuan agar uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, jangan untuk membeli kebutuhan bapak – bapak, seperti rokok, belikan sembako saja biar bisa untuk keluarga,” tegas Mundjidah dengan nada berpesan kepada penerima bantuan. *ryan



 
Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto, terus melakukan verifikasi dan validasi data bagi penerima bantuan sosial (bansos) warga terdampak Covid-19. Untuk itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menghimbau kepada seluruh masyarakat agar melaporkan ke petugas di lingkungan masing-masing jika berhak menerima bantuan namun belum terdata. Pun sebaliknya bagi warga mampu tapi menerima bantuan.
   Data terbaru dari Dinas Sosial Kota Mojokerto, hari ini (11/5) ada 526 penerima bantuan sosial yang diblokir atau dihentikan karena dinilai mampu, telah melaporkan ke petugas. Sehingga, bantuan bagi penerima tersebut akan ditarik oleh Pemerintah Kota Mojokerto, untuk kemudian disalurkan kepada warga terdampak Covid-19 yang benar-benar berhak menerima bantuan sosial.
   "Kami terus melakukan verifikasi dan validasi data. Dari 11. 556 KK, telah dilakukan pemblokiran sebanyak 526 penerima karena mereka dinilai telah mampu dan mandiri. Sehingga jatah bantuan yang diberikan oleh pemerintah akan ditarik kembali dan akan diberikan kepada warga yang berhak menerima," jelas Ning Ita, sapaan akrab wali kota, Senin (11/5).
    Bagi warga mampu namun menerima bantuan lanjut Ning Ita, untuk segera melaporkan kepada petugas di lingkungan masing-masing. Adapun alur pelaporannya adalah dengan mendatangi ketua RT/RW setempat dengan membawa kartu keluarga (KK) dan kartu identitas (KTP) penerima. Kemudian, data tersebut akan diberikan kepada petugas Dinas Sosial untuk dilakukan verifikasi dan validasi.
   "Jika sudah melaporkan ke RT/RW setempat dan mengisi identitas, maka petugas dari Dinas Sosial akan mengkroscek ulang. Nah, dari sini akan kelihatan jika penerima tersebut merupakan warga yang mampu atau pun warga terdampak. Jika hasilnya dia merupakan warga mampu, maka penerima tersebut akan diblokir. Sehingga jatah bantuan untuknya akan disalurkan kepada warga lainnya yang terdampak. Sebaliknya juga bagi warga yang belum menerima bantuan tapi terdampak, mohon segera melapor," jelasnya.
   Bagi warga yang masih bingung, Pemerintah Kota Mojokerto telah menyediakan akses pelaporan melalui website. Bagi warga mampu namun menerima bantuan, maka bisa mengakses melalui https://bit.ly//lapor-bansos-warga-mampu. Sedangkan untuk bantuan sosial tidak tepat sasaran bisa mengakses melalui http://bit.ly//lapor-bansos-tidak-tepat-sasaran. Dan yang terakhir, bagi warga terdampak tapi belum menerima bantuan bisa mengakses melalui https://bit.ly//lapor-bansos-covid19. *adv



 Mojokerto – suaraharianpagi.com
    Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Sosial dalam Jaring Pengamanan Sosial (JPS) dampak Covid-19, telah melakukan perluasan program sembako sebanyak 4,8 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) se-Indonesia. Di Kabupaten Mojokerto sendiri tercatat ada 56.185 KPM, dimana saat ini Kabupaten Mojokerto mendapat perluasan sebanyak 9.303 KPM.
   KPM Perluasan tersebut selanjutnya akan mendapatkan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), yang disalurkan oleh BNI Cabang Mojokerto dibantu Pendamping Sosial. Penyaluran telah dijadwalkan mulai tanggal 11-16 Mei, bertempat di 18 pendapa kecamatan masing-masing se-Kabupaten Mojokerto. Penyaluran KKS tersebut, mulai dilaksanakan perdana di Kecamatan Trowulan yang dilakukan langsung oleh Bupati Mojokerto Pungkasiadi.
   “Minggu ini sebanyak 9.303 KPM sudah harus menerima bantuan, semua data ada di Dinsos. Tiap KPM yang sebelumnya menerima Rp 150 ribu per bulan, akan ditambah menjadi Rp 200 per bulan mulai April sampai Desember 2020,” kata bupati, Senin (11/5) pagi di Pendapa Kecamatan Trowulan.  
   Bantuan tersebut ditransaksikan melalui agen atau e-Warong Penyalur Bantuan Sosial Pangan, dan dapat dibelanjakan dalam bentuk bahan pangan. Sistem penyaluran seperti ini dianggap paling tepat, karena akan mempermudah Pemerintah Daerah dalam hal monitoring dan reporting. Selain itu bantuan akan tersalurkan secara efektif, efisien, transparan dan tepat sasaran.
   Bupati yang akrab disapa Abah Ipung, dalam acara tersebut juga menegaskan bahwa penyaluran bantuan ini akan dilaksanakan secara seksama dan matang. Ini untuk menghindari terjadinya data ganda yang mungkin saja terjadi. Hal tersebut juga karena data yang dapat berubah setiap bulan, berdasarkan laporan yang diterima. Akan tetapi data yang masuk nan ti, tetap memerlukan verifikasi agar jangan sampai terjadi data ganda.
   “Dari pusat kita juga diminta supaya jangan sampai ada data yang dobel. Sebab program bantuan yang disampaikan ke masyarakat ada beberapa. Misalnya PKH, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan lain-lain. Kalau ada masyarakat yang berhak tapi belum menerima, bisa segera melapor. Kita tidak akan mengunci data dan selalu terbuka” tambah Abah Ipung.
   Senada dengan bupati, Camat Trowulan Try Raharjo M. menyampaikan, saat ini ada 762 KKS di Kecamatan Trowulan penerima bantuan program sembako. “Masyarakat nanti akan meneri ma senilai Rp 200 ribu, yang didistribusikan berupa sembako, kata Try.
   Kegiatan penyaluran KKS turut dihadiri Assiten, Kepala BNI Cabang Mojokerto Rudy Indrianto, OPD terkait serta masyarakat penerima bantuan. *hms/ds


Gresik - suaraharianpagi.com 
   Patroli skala besar pemberlakuan jam malam dalam pelaksaan PSBB (Pembatasan sosial berskala besar) terus dilakukan oleh tim gabungan Polres Gresik, TNI, Pemkab Gresik, (10/5) hingga (11/5) dini hari.
   Tim gabungan menyisir mulai, Jl. Raden santri – Jl. Jl. Wachid hasym – Jl. Mh. Tamrin – Jl.Pahlawan – Jl. Jagung Suprapto- Jl. Dr. Soetomo – Jl. Raya Giri Kebomas – Jl. Mayjend Sungkono Gresik – Jl. Nippon paint – Jl. Veteran – Jl. Pahlawan – Jl. Wachid Hasyim – Jl. Basuki Rahmat – Polres Gresik.
   Dalam kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kabagren Kompol Sukri itu, sedikitnya mengamankan 30 orang yang melakukan pelanggaran diangkut ke Mapolres Gresik.
   “Sebanyak 8 orang yang suhu badannya mencapai 37,0 °C dilakukan rapid tes oleh Dinas Kesehatan. Selanjutnya didata identitasnya agar supaya tidak melakukan aktifitas di malam hari selama pelaksanaan PSBB berlangsung “tegas Kapolres Gresik, AKBP Kusworo Wibowo.
   Lebih lanjut AKBP Kusworo menambahkan, tujuan PSBB adalah memutus rantai Covid-19 “Mohon dukunganya kepada seluruh masyarakat Gresik supaya pandemi ini segera berakhir “ harap Kapolres Gresik. *mrt



 
Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Walikota Mojokerto Ika Puspitasari pimpin langsung pemeriksaan rapid tes terhadap pengunjung warung kopi (warkop) dan kafe bersama tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Pemeriksaan ini, dilakukan sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus korona atau Covid-19 di wilayah bumi Majapahit, Sabtu (9/5) malam.
   "Malam ini kami melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah tempat kepada pengunjung warung kopi dan kafe, dengan melakukan rapid tes secara langsung di lokasi. Hal ini untuk mencegah terjadinya penyebaran virus dari orang tanpa gejala (OTG), karena orang sehat pun beresiko membawa virus," kata Walikota Ika Puspitasari, usai sidak.
   Jika hasil dari tes rapid menunjukan reaktif, lanjut ning Ita, sapaan akrab walikota, maka pengujung akan dibawa langsung oleh petugas untuk dilakukan karantina di tempat observasi yang telah disediakan oleh Pemerintah Kota Mojokerto. Hal ini dimaksudkan agar pengunjung yang memiliki hasil reaktif, dapat ditangani secara cepat dan tepat oleh petugas medis.
   "Kegiatan ini akan dilakukan secara berkala, sebagai bentuk upaya pencegahan sekaligus memutus mata rantai penyebaran virus di tempat-tempat yang sering digunakan untuk nongkrong. Kami ingin masyarakat dapat terhindar dari pandemi ini, karena masih banyak ditemukan anak-anak yang nongkrong meskipun telah diberlakukan jam malam dan penerapan aturan take away bagi pembeli," jelasnya.
   Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Kota Mojokerto dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Mulai dari diberlakukannya jam malam sejak pukul 19.00-06.00 wib, penerapan take away bagi pedagang, screening pendatang di setiap RT/RW, penerapan protokoler kesehatan bagi masyarakat, pembuatan bilik sterilisasi, ruang observasi bagi ODP dan masih banyak lainnya.
   Sementara itu, pembaruan data terkini perkembangan Covid-19 di Kota Mojokerto dari Dinas Kesehatan hari Sabtu (9/5) adalah orang dalam resiko (ODR) berjumlah 2.092 orang, orang tanpa gejala (OTG) 18 orang, orang dalam pantauan (ODP) berjumlah 354, orang dalam pengawasan (PDP) berjumlah 9 orang, sedangkan PDP meninggal berjumlah 3 orang dan pasien terkonfirmasi positif berjumlah 3 orang. *adv


 
 Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Mimpi mewujudkan pemerintahan berbasis i-Government (Integrated Government) sudah di depan mata. Pemerintah Kabupaten Mojokerto merealisasikan hal tersebut, dengan membentuk dan mendirikan pusat informasi berbasis digital terpadu atau Command Center. Grand launching dan peresmiannya dilakukan bertepatan pada Tasyakuran Peringatan Hari Jadi Kabupaten Mojokerto ke-727 tahun 2020, Sabtu (9/5) sore oleh Bupati Mojokerto Pungkasiadi di Griya Wira Bhakti Praja Rumdin Bupati Mojokerto.
   Bupati Pungkasiadi mengaku bangga dengan keberhasilan Pemerintah Kabupaten Mojokerto, dalam mewujudkan berdirinya Command Center. Command Center Kabupaten Mojokerto akan difungsikan sebagai tempat teleconference untuk rapat, dengan instansi vertikal maupun horizontal. Command Center Kabupaten Mojokerto telah dilengkapi dengan peralatan mutakhir yang bisa melayani video conference dengan baik dan nyaman.
   Di samping itu, hadirnya Command Center juga bersandar pada Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem pemerintahan Berbasis Elektronik (disingkat SPBE), yang merupakan tonggak transformasi dari era e-Government (Electronic Government) menuju i-Government. 
   “Dalam i-Government sendiri, tentu diperlukan sebuah tempat dimana pengambil keputusan dapat memantau segala hal dan mendapatkan data yang akurat secara realtime, apalagi dalam situasi gawat darurat Covid-19 seperti saat ini. Untuk itulah kita bangun dan hari ini mulai kita jalankan Command Center Kabupaten Mojokerto,” kata Bupati Pungkasiadi dalam prosesi launching.
   Meski masih banyak PR yang harus diselesaikan, namun Bupati Pungkasiadi optimis Command Center Kabupaten Mojokerto akan mampu menumbuhkan kultur digital di masyarakat.
   “Masih banyak tugas kita. Saat ini kita sedang membangun jaringan fiber optik yang menjangkau seluruh Perangkat Daerah di Kabupaten Mojokerto. Jaringan ini, yang dalam SPBE dikenal sebagai “Jaringan Intra Pemerintah”, akan kita fasilitasi dengan Bandwidth Internet 1.000 Megabit atau 1 Gigabit. Jadi, Kabupaten Mojokerto sudah memasuki era Giga, sudah tidak Mega lagi,” tambah bupati.
   Selain PR tersebut, tahun depan Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga akan membangun Co-Working Space di Pusat Informasi Perdagangan Sooko. Ini juga untuk memfasilitasi pesatnya pertumbuhan start-up di Kabupaten Mojokerto. Selain itu juga, Pemerintah Kabupaten Mojokerto akan mensertifikasi Data Center yang dikelola Diskominfo sehingga dapat diakui kehandalan dan keamanannya baik nasional maupun internasional.
   Tasyakuran Peringatan Hari Jadi Kabupaten Mojokerto ke-727 yang mengangkat tema "Dengan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Mojokerto ke-727 Tahun 2020, Mari Bersatu Padu Lawan Covid-19 Demi Kesehatan Masyarakat dan Pembangunan Kabupaten Mojokerto" dilaksanakan secara sangat sederhana dengan tetap memperhatikan upaya pencegahan Covid 19. Tanpa mengurangi rasa khidmat, dilaksanakan juga istighosah dan ceramah agama oleh Kyai Adhim.
   Pemerintah Kabupaten Mojokerto sendiri telah matang menyiapkan anggaran dalam rangka mencegah penyebaran dan menangani Covid-19, dengan melakukan refocusing dan realokasi belanja barang dan jasa, belanja modal, perjalanan dinas dan pembangunan fisik, dan lain-lain. Anggaran tersebut digunakan untuk 3 program yaitu pertama untuk pencegahan dan penanggulangan Covid-19 khusunya bidang kesehatan, kedua untuk pemberian bantuan sosial dan ketiga untuk menstabilkan ekonomi masyarakat.
   "Semua kegiatan Peringatan Hari Jadi yang bersifat selebrasi, memang kita lepas. Karena situasi Covid-19 saat ini sangat serius, kita ingin fokus menanggulangi itu. Hal ini juga sudah sesuai instruksi pusat terkait refocusing dan realokasi anggaran," tandas bupati dilanjutkan acara potong tumpeng.
Hadir pula dalam acara ini Ketua DPRD Ayni Zuroh, Dandim 0815 Letkol Inf Dwi Mawan Sutanto, Kapolres Mojokerto AKBP Feby DP Hutagalung, Kapolresta Mojokerto AKBP Bogiek Sugiyarto, Kajari Kab Mojokerto Hari Wahyudi, Sekdakab Herry Suwito, Ketua TP PKK Kabupaten Mojokerto Yayuk Pungkasiadi serta para Kepala OPD. *adv



Jombang - Suaraharianpagi. com
Dua puluh warga (20) yang menempati rumah blok G dan F perumahan KD ASRI, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menolak pembangunan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di wilayah padat penduduk, tepatnya disamping rumah Blok G No.1 dan didepan rumah Blok F. No.28.
   Surat pernyataan penolakan tersebut di alamatkan kepada pengembang perumahan KD. ASRI PT. PUTRI AIDAH BAROKAH, di Dusun Sembung RT.003/RW.001, Desa Sembung, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, dengan alasan warga didua blok tersebut tidak mau lingkunganya tercemari dan setiap harinya akan menghirup bau tak sedap.
   Salah satu warga Blok G, yang tak mau disebut namanya mengatakan, “pihak pengembang tidak etis atas rencana penempatan TPS yang berada di tengah-tengah perumahan padat penduduk. Keberadaan TPS itu telah mengganggu kenyamanan warga blok G dan blok F. jelas bau tak sedap dan menyengat akan terjadi bila sudah jadi dan digunakan. Apalagi jika truk yang mengangkut sampah basah tesebut lambat mengambilnya”. Ujar warga kepada suaraharianpagi.com. dengan nada kesal.
   Ditambahkan, warga blok G dan F menyampaikan kekecewaanya atas rencana Pengembang yang dianggap hanya melaksanakan kebijakan sepihak, tanpa melihat dampak yang akan dirasakan oleh warga. Intinya kita menolak rencana penempatan TPS di lingkungan kami,” cetusnya.
   Hal senada juga diungkapkan warga blok F. Sumiati bukan nama sebenarnya, Dia mengaku keberatan atas rencana penempatan TPS di lingkungannya. “Sangat tidak etis membangun TPS di lingkungan padat penduduk, ada anak yang sedang belajar, orang mau ibadah kebayang bau,” ungkapnya.
   Sumiati menyebut selama ini pengembang PT. PUTRI AIDAH BAROKAH kurang dalam sosialisasi kepada warga blok G dan F, atas penempatan TPS di lingkungan padat penduduk. Banyak warga yang tidak tahu menahu akan sosialisi tersebut. “ selama ini yang diajak pertemuan bukan warga Blok G dan F tapi blok lain yang tidak ikut terdapak ” tegas Sumiati.
   Untuk penolakan pembangunan TPS tersebut, warga Blok G dan F akan melakukan protes rame – rame kekantor pengembang dan melaporkan ke dinas yang memberi rekomendasi pembangunan TPS tersebut.” Ancamanya.
   Sementara dari pihak Pengembangan PT. PUTRI AIDAH BAROKAH. Lailatul Musyarofah selaku Direktur, bertempat di tempat ibadah Perumahan KD Asri mengatakan, “untuk menyediakan pasum sudah menjadi kewajiban pengembang meskipun sifatnya formalitas, tapi kewajiban untuk membuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Tunggorono, sifatnya wajib, ini sudah dilakukan pengembang selama dua tahun, pakai tenaga sendiri, armada sendiri.
   Bahkan kita menyarankan kepada warga monggo kalau setiap hari akan memakai armada kami kita sediakan. Malah dari ibu-ibu kepinginya ada semacam bank sampah tapi kita tidak ada tempat.
   Kadang kita juga sempat ditegur oleh pak Kades karena warga ada yang membuang sapah di bawah jalan tol, mangkanya kita mengambil langka membuang sendiri. Tidak cukup itu kita adakan rapat dengan pak Kades dan ibu- ibu warga perumahan agar jam 3 membuang sampah yang sudah ditentukan, jam 4 kita buang ke TPA,” tegas Derektur PT. Putri Aidah Barokah Lailatul Musyarofah. *ryan.



 Mojokerto – suaraharianpagi.com
   Pandemi Covid-19, di berbagai daerah terus meningkat setiap harinya menimbulkan banyak kerugian. Tak terkecuali kerugian material yang berimbas pada aspek ekonomi, terutama pada kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto bergerak cepat dengan menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai yang diberikan dalam bentuk Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
   Dari data Dinas Sosial Kota Mojokerto, bantuan kartu keluarga sejahtera merupakan program perluasan bagi penerima yang belum mendapatkan bantuan sembako dari Kementerian Sosial (Kemensos). Dimana, keluarga penerima manfaat (KPM) yang berjumlah 4.469, saat ini mendapatkan penambahan sebanyak 2.081. Bantuan tersebut, akan diterima oleh masyarakat mulai bulan April hingga Desember mendatang.
   "Bantuan ini senilai Rp 300 ribu. Dengan rincian, Rp 200 ribu dari Kementerian Sosial, dan Rp 100 dari Pemerintah Provinsi Jatim. Untuk bantuan dari pusat akan diterima oleh masyarakat selama sembilan bulan, sejak bulan ini. Sedangkan dari provinsi, hanyabtiga bulan saja. Sehingga, setiap bulannya mereka dapat mencairkan ke e-warong sesuai dengan yang telah ditentukan. Dari kuota 2.081, yang baru mendapatkan kartu sebanyak 1.262," kata Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, Jumat (8/5).
   Selain penerima bantuan program KKS, hari ini Ning Ita juga mnyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) di Kantor Pos kepada 11.556 penerima. Bantuan sebesar Rp 600 ribu tersebut akan disalurkan oleh pemerintah daerah selama tiga bulan terhitung mulai bulan April. Bantuan-bantuan ini, merupakan upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan bagi warga terdampak Covid-19.  Menyusul segera bantuan sosial dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebanyak 5.000 KK sebesar Rp.200.000,- yang baru saja selesai verivali data kami kemarin.
   Perlu diketahui, Pemerintah Kota Mojokerto juga menyiapkan jaring pengaman sosial bagi warga terdampak Covid-19, yang mulai diberikan sejak 15-30 April. Ada 600 tukang becak, 300 disabilitas, 369 anak yatim non panti, 1.264 lansia kurang mampu dan 6.458 keluarga pra-sejahtera yang mendapatkannya. Anggaran bantuan tersebut, bersumber dari Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBN) serta anggaran dari pemerintah pusat. Dan 5.500 paket sembako bagi masyarakat terdampak yang tidak mendapat bantuan ataupun yang baru mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dimana saat ini data sedang dalam proses verifikasi. Adapun dalam tahun 2020 total bantuan sosial berdasarkan data pada bulan April - Mei adalah sebesar Rp.56.548.220.000,00 bagi kurang lebih 28.606 KK. *adv


XxX

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget