[img src="https://1.bp.blogspot.com/-y5vc1w5WmmI/Wvu0-zyCxSI/AAAAAAAAE1k/6-N0xM6XlYERbg8k5nHriuOLiwFrZiWpACLcBGAs/s1600/150%2Bx%2B450%2Bbanner.png"/]

Industri kertas di Jawa Timur menyumbang 23 persen industri kertas nasional,


Pabrik Kertas di Mojokerto Ini Bakal Olah Sampah Plastik Jadi Energi Listrik
Mojokerto - suaraharianpagi.com
  Gubenur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menegaskan sam pah plastik di pabrik kertas di Mojo kerto ini akan diolah menjadi energi listrik. Hal tersebut disampaikan usai mengunjunginya PT Mega Sur ya Eratama, Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. “Tujuan kami kesini ingin melihat penjajakan rencana proses untuk menyiapkan dari sampah plastik menjadi energi listrik. Sekarang ini secara nasional, Pak Presiden meminta untuk kita melakukan pemetaan dari sampah untuk bisa menjadi energi plastik,” ungkapnya, Senin (15/7/2019).
   Untuk sampah basah, lanjut mantan Menteri Sosial RI ini, sudah diinisiasi di Surabaya dan sampah plastik sedang diinisiasi di Mojokerto. Menurutnya, Pemprov Jawa Timur punya Pekerjaan Rumah (PR) terkait sampah plastik. Jawa Timur termasuk lima besar di dunia. “Sehingga bagaimana pengolahan sampah plastik bisa menjadi energi itu salah satu dalam Rencana Umum Energi Daerah. Raperda RUED sekarat dibahas di DPRD, kita berharap energi yang terbarukan atau energi non forsil di tahun 2025 di Jatim bisa sudah mencapai 16,8 persen,” katanya.
   Diantara energi non fosil, lanjut orang nomor satu di Jawa Timur ini, masyarakat biasa mendengar PLPB, PLTA, PLTS. Sehingga dalam kunjungan ke Mojokerto untuk melihat bahwa sampah bisa menjadi listrik. Dan yang dikelola di Mojokerto, awal Agustus sudah bisa operasi.
“Insya Allah awal Agustus sudah bisa operasi, adalah sampah plastik menjadi energi listrik. Kita sedang koordinasikan dengan beberapa kabupaten/kota apakah sampah basah bisa menjadi listrik atau sampah plastik menjadi listrik. Didalam kunjungan ini kita menemukan bahwa pabrik kertas di Jawa Timur masuk 5 besar ekspor Jawa Timur,” ujarnya.
   Industri kertas di Jawa Timur menyumbang 23 persen industri kertas nasional, industri kertas di Jawa Timur sebagian besar menggunakan wish paper. Persoalannya adalah ketika sampah kertas di ekspor ada ikutan sampah plastik. Akhinya per 20 Juni lalu, sampah kertas yang di import akhirnya di re ekspor. “Rata-rata hari ini, pabrik kertas di Jawa Timur yang bahan bakunya menggunakan bahan baku sampah kertas, bahan baku makin menipis. Termasuk pabrik ini. Bahan bakunya kira-kira bertahan 10 hari kedepan, informasi ada 305 kontener tertahan di Tanjung Perak dan potensi di re ekspor,” tuturnya.
   Ini akan menjadi PR Pemprov Jawa Timur untuk mengkoordinasikan dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Perindustrian. Menurutnya, semua pasti menolak import sampah plastik tapi kemudian import sampah kertas yang menjadi bahan baku pabrik kertas tertahan. “Oleh karena itu harus segera dicari solusi supaya Industri kertas di Indonesia, khususnya industri kertas di Jawa Timur yang menggunakan bahan baku kertas bekas tidak berhenti beroperasi. Pabrik yang kita datangi ini, 100 persen menggunakan bahan baku kertas bekas,” jelasnya.
   Khofifah menambahkan, suplai nasional di PT Mega Surya Eratama hanya mencapai 20 persen dari kebutuhan kapasitas produksi pabrik. Artinya 80 persen harus di import. Menurutnya, ada opsi PAL artinya penebangan kayu di hutan akan masif. Jika menggunakan kertas bekas problemnya adalah ikutan sampah plastik.
   “Sehingga ikutan sampah plastik harus dipisahkan untuk bisa membangun industri kertas kita supaya tetap bisa berlangsung di antara negara lain yang melakukan masifikasi dari industri kertas yang ada. Itu temuan lapangan kita, intinya kita kesini ingin melihat kesiapan energi listrik yang akan dilakukan melalui pengolahan sampah plastik,” tegasnya.
   Menurutnya, jika bisa berjalan di awal Agustus maka kesepakatan Pemprov Jawa Timur dengan PT Mega Surya Eratama dengan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengkomunikasikan dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Pasalnya, pada dasarnya ITS mempunyai teknologi untuk sampah basah menjadi listrik.
   “Ini sampah plastik menjadi energi listrik. Kalau ITS bisa menyiapkan teknologi yang lebih masif maka harga dari mesin untuk mengolah sampah plastik menjadi energi listrik akan lebih mudah dan murah. Jika butuh sparepart kita butuh, lebih mudah dan aksesnya dan bisa terkoneksi dengan problem pengolahan sampah di kabupaten/kota di Jawa Timur,” urainya.
Masih kata Khofifah, di Mojokerto menjadi inisiator pertama untuk mengolah sampah plastik menjadi energi listrik. Sampah basah menjadi energi listrik sudah di uji coba di Surabaya dan Lamongan. Saat ini sudah disiapkan oleh Kementrian ESDM dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
   “Terutama adalah untuk menjadi energi listrik, tidak hanya sampah reuse atau sampah recycle, reduce. Jika penggunaannya untuk listrik maka menyiapkan energi non fosil. Ini 7,8 mega watt, pabrik ini selama ini punya power plant menggunakan batu bara maka akan digantikan secara bertahap dengan sampah plastik,” lanjutnya.
   Saat ini masih menggunakan teknologi luar, mesin sudah datang dan diperkirakan awal Agustus akan beroperasi. Jika ITS bisa mereplikasi mesin maka akan semakin bermakna bagi penyiapan energi non fosil. Tidak hanya di Jawa Timur tapi juga di Indonesia.
   Sementara itu, Dirut PT Mega Surya Eratama, Siswanto menjelaskan secara teknis proses produksi hingga bahan baku yang diperoleh. “Bahan baku 80 persen kami dapat dari import. Seperti Inggris, Australia, Amerika, Singapura, dan negara-negara Eropa. Sedang 20 persen sisanya dari lokal,” pungkasnya.
   Produksi PT Mega Surya Eratama dilalukan di atas lahan seluas 29 hektar dan sudah dikembangkan seluas 40 hektar. Jawa Timur sendiri tercatat sebagai penghasil limbah plastik ke-tiga terbesar di dunia. Fakta ini tentu menjadi catatan dan PR bersama, terkait bagaimana bisa menekan dan memaksimalkan kondisi tersebut.
   PT Mega Surya Eratama di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro bakal mengolah limbah plastik sebagai tenaga alternatif pembangkit listrik. Industri yang bergerak di bidang kertas ini, juga disebut-sebut sebagai inisiator pertama pemanfaatan limbah plastik menjadi energi listrik.
Dalam kunjungannya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dengan didampingi langsung Wakil Bupati Mojokerto Pungkasiadi dan Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno. *Humas/Ds


Posting Komentar

[facebook]

XxX

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Jason Morrow. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget